Selasa, 23 Agustus 2016
Senin, 09 Mei 2016
Jumat, 29 Mei 2015
INPOL
By:
Unknown
On: 5/29/2015 11:22:00 AM
Intan
Senja yang mulai habis dimakan langit sore
itu menemani perjalanan pulang Intan menuju tempat
teduh. Tak satu orangpun Ia temui, selain angin
menari mendekati tubuh Intan yang tinggi berkulit gelap rambut panjang sampai
pantat dan berkaca mata. Pertama kalinya jalan pulang itu berbeda dari
hari-hari sebelumnya. Biasanya jalan itu penuh penjual nasi goreng, mie goreng,
warung makan, segerombolan pemuda bermain kartu, sekedar minum dan nongkrong
guyon lenyap entah kemana.
“Intan !!! kamu dari mana?”
Teriakan mengagetkan ternyata suara Karang
“sepulang sekolah” Jawab Intan
“ Jam segini baru pulang kemana
aja?”
“Oh, iya tadi saya bermain dulu,
iseng ingin mencari suasana lain”
“Mampir dulu ke rumah”
“Terima kasih, mungkin bisa lain
waktu. Jadi rumahmu disini, aneh saja padahal jalan ini tidak asing bagiku,
tetapi mengapa baru sekarang aku tahu bahwa kamu tinggal disini, hampir tiga
tahun kita satu almamater. Aku sudah ditunggu Ibu di rumah”.
Setelah
tiba di rumah Intan langsung masuk tanpa salam dengan muka menunduk berjalan
menuju kamarya, wajahnya tampak hambar dan sedikit muram. “Dari mana saja kamu,
jam segini baru pulang” Ibunya bertanya kepada Intan. Tetapi Intan mengabaikan
pertanyaan Ibunya, Ia hanya diam dan masuk ke kamarnya.
“Intan
bangun sudah pagi” teriak sang Ibu sambil mengetuk pintu kamar. Memanggil-manggil
nama Intan sampai berulang-ulang, bangun nduk!
hari ini kamu berangkat sekolah nggak?, masih saja tidak ada jawaban.
Ibunya terpaksa masuk, sambil membuka jendela kamar, “Intan bangun nggak usah manja“ Suara Ibunya yang
semakin lantang tetapi Intan hanya menguap. “Sebentar lagi kan mau ujian akhir
jangan malas-malasan” Ibunya membuka selimut yang masih menutupi tubuh Intan.
“Alah!!! Nggak usah cari perhatian”.
Intan dengan mata masih terpejam menyaut. “Sejak kapan Ibu mengatur dan
memperhatikan hidupku, kemarin-kemarin kemana aja? Sejak Ayah tak lagi tinggal
bersama kita keluarga ini mulai aneh”. Memang
hubungan mereka kurang baik setelah ditinggal Ayah Intan, mereka tidak
jarang beradu mulut. “Selama ini kan Ibu cari uang untuk sekolah kamu” Jawab
Ibunya
“Cari uang apa cari uang” kata
Intan. “Terus semalam, laki-laki yang bersama Ibu itu siapa”
“Oh, itu..!!” Ibunya menjawab
dengan sediki gugup. “Dia teman kantor Ibu”
“Teman kok, pakai peluk-pelukan
segala, mesra lagi. Selama ini aku nggak boleh tau, pekerjaan Ibu itu apa?,
jangan-jangan jadi istri simpanan maling-maling besar yang tinggal di luar Istana”
“Jaga yaa! Omongan kamu, nggak perlu tahu Ibu kerja apa, yang
penting bisa buat bayar sekolah kamu”
“Apa kata Tuhan?, Intan harus jawab
apa? malu Bu!! malu. Sampai kapan Ibu terus-terusan begini, pulang malam berpakaian tak pantas
dilihat orang-orang sini. Lihat Bu! Tuhan
sekarang sudah tampak, menghakimi sepihak, apa Ibu nggak takut ”
“Sudah diam nggak usah diteruskan omongan kamu, tugas kamu saat ini adalah
belajar. Kalau sudah terlanjur seperti Ibu, kamu mau jadi apa coba?”
“Buat apa belajar!!, sudah berapa
banyak orang-orang pintar disana membodohi kita. Apa Ibu rela aku jadi anak
pintar?,”
“Tapi kan sebentar lagi kamu ujian”
“Ah, bodo!!! apalagi ujian, itu
salah satu bentuk pembodohan selama akau
jadi anak didik. Katanya melatih mental dan pembentukan karakter
siswa-siwa, kenyataannya Ibu lihat saja setiap tahun berapa banyak yang lulus,
berapa yang gagal, berapa banyak yang
bunuh diri, berapa banyak kecurangan, maling yang merajalela dan semakin
menjadi-jadi setiap tahun. Belum lagi mereka yang sudah sarjana, apakah mereka
sudah layak duduk di kursi tiap hari telanjang dan tidur ketika paripurna.
Kalau sudah begini siapa yang mau disalahkan dan yang mau menanggung beban
rakyat seperti kita. Boneka-boneka sibuk dengan dunia dan permainan mereka
masing-masing. Raja hanya memikirkan tahta dan singgasana. Apa Dia mau menengok
rakyatnya yang kelaparan dan menangis menunggu datang hujan.”
“Justru itu to nduk!!!, rumah dan Istana kita masih butuh orang-orang sepertimu
yang masih bisa berkesempatan mencari ilmu. Ibu yakin kamu bisa merubah segala
apa yang ada di Istana.
“Terus kenapa Ibu malah milih hidup
seperti ini. Mengapa Ijazah sarjana nggak dipergunakan untuk masuk ke
instansi.”
“Oh, ya ku ingat cerita Ibu
kemarin, eh bukan dua tahun yang lalu”
“Katanya sudah gratis”
“tidak! Itu hanyalah rayuan gila
mereka untuk kita”
“Dengar saja berita, mereka telanjang
dan tidur ditengah paripurna, guru-guru yang seharusnya menjadi contoh
masyarakat malah memperkosa sarjana, belum lagi anak didik yang tiga hari mati
disodomi soal-soal basi, sekolah-sekolah disulap lokalisasi, pelajar tumbuh
diperkosa teknologi. “ Dan lihat Ki Hajar Dewantara mati tertusuk Patimura,
jasadnya tak lagi disirami.
Tinggal nama, tulang belulangnya
menjadi sarapan anjing”
Mulai
hari itu Intan tak mau lagi datang ke belajar
apalagi datang ke tempat yang sejauh ini telah menjadi pembentukan karakter
pada insan, tak satu temannya yang bisa menemui
Intan. Terutama Karang yang mencoba berkali-kali ingin bertemu
dengan Intan datang ke rumahnya, tetap saja hasilnya nihil. Hampir tiga tahun
lama mengabur dibalik dera dekap semesta, awan yang pekat menjadi selimut di
antara pahit-manisnya dunia. Suatu ketika karang yang dapat tugas dari dosen
pengampu untuk meneliti keadaan prostitusi, Ia melihat wanita dengan postur
tinggi berkulit gelap rambut panjang sampai pantat dan berkaca mata sedang
melayani laki-laki tua untuk bersulang bersama.
BURUNG PIPIT DAN MERPATI
By:
Unknown
On: 5/29/2015 11:15:00 AM
BURUNG PIPIT DAN
MERPATI
Dua ekor burung hinggap di pohon tak
berdaun. Setelah seharian keliling melihat cerahnya siang tadi. Menghabiskan
waktu dan bercengkrama bersama. Karena sudah sore seperti biasa burung pipit
dan merpati kembali kerumahnya, pemiliknya yang sudah menunggu kepulangan
mereka. Walaupun mereka harus berpisah ketika akan tidur.
Keesokan harinya dua sahabat ini
bertemu kembali, makan dan minum bersama, bermain bersama, bercerita bersama,
terbang kesana kemari.
Sesaat
mereka hinggap dipohon yang rindang. Menikmati semilir angin siang itu. Cuaca
yang tidak terlalu panas, sorak sorai angin membuatnya mereka tertidur sesaat.
Setelah beberapa menit terbangun mereka sembari bercerita.
“Pat
!!!.” Burung pipit mengagetkan merpati. Spontan
merpati menjawabnya. “Iya ada apa pit?”. “aku mau tanya, kamu merasa
bosen nggak? Jadi kita yang seperti ini …Ya.!! Jadi hewan yang tergantung
dengan manusia.
“Hmmhhh!!,
iya juga sihh.” Sambut merpati.
Kemudian
burung pipit berkata lagi :
“
Enak kali ya jadi manusia, bisa belajar di sekolah, bermain –main sesuka hati, jadi
artis yang diidolakan banyak orang, dipuja-puja, jadi gubernur, jadi presiden serta
jadi apa saja tergantung cita-cita dan mimpinnya.“Iya juga sihh, enak …” kata
merpati.
“Hmmh,
tapi kalau manusianya pencuri, pemburu kita dan pembunuh saudara-saudara kita
tanpa belas kasihan, jahat, apa kamu mau. Aku tidak mau jadi manusia. Lihat
saja keadaan disekitar kita.” Sambung merpati. Merpati mempunyai keinginan
tinggal di istana yang mewah, makanannya yang enak-enak. Tidak seperti disini
semuanya serba pas-pasan.
“Lalu
kita kedepan mau jadi apa?, Cuma mau makan, tidur, berak, bermain, dan nurut
sama majikan, serta mondar-mandir terbang kesana kemari tak ada arah dan tujuan,
yang bisanya Cuma mengekor.” Burung pipit berkata lagi.
Setelah lama bercerita merekapun
kembali lagi kerumah, sambil menikmati sunset diperjalanan pulang. Tak sadar
untuk pertama kalinya mereka tidur bersama, karena kecapean mereka tak sempat
tidur di tempat yang telah disediakan pemiliknya.
Tiba-tiba
mereka berada diluar angkasa penuh bintang beterbangan, dikelilingi meteor, dan
benda planet lainnya serta menjadi manusia bertopeng yang hampir mirip dengan Powe Rangers. “Aku pembasmi kejahatan,
aku tak terkalahkan, siapa yang berani denganku, akanku habisi…”
“Hei
tunggu!!” Sosok Power Rangers perempuan
datang. “Aku teman kamu…”
Kemudian
ada Aliens yang sedang beraksi, ingin
menhancurkan bumi kedua Powe Rangers
itu tak terima dengan perbutan Aliens
itu, terjadilah pertempuran sengit. Perang dimulai ….!!!
“Yaaattsss,
Ciaaatts, treng, drung bugs!!! Yang akhirnya di menangkan oleh Powers Rangers.
Setelah
selesai perang dua Powers Rangers tadi
segera mundur sambil begandengan tangan. Sambil menucap “Terima kasih kawan,
sudah mau membatu”
“Iya
sama-sama” bukankah kita sesama harus saling membantu..”
Tidak
hanya bergandengan tangan, tetapi juga saling bertatap muka. Mereka segera mau
pelukan, tapi ….
“Pipit,
merpati bagun!!, sudah pagi”. Teriak sang pemilik, ternyata burung pipit
bermimpi. Dan segera untuk sarapan. Seperti biasa burung pipit dan merpati
menghabiskan sarapan bersama, kemudian sang pipit sambil bercerita dengan merpati
tentang kejadian semalam.
“Hey
pat!, semalam aku mimpi. Semalam aku bermimpi jadi seorang Powers Rangers pembasmi kejahatan bersamamu. Merpati malah tertawa
renyah “ha ha ha ha ha ha. Ada-ada saja kau, macam kau bisa jadi Powers Rangers,!! Ngacau.”
“Iya,
namanya juga mimpi, apa saja bisa terjadi.Gantian dong!! kamu yang cerita.” Sambung
burung pipit. Merpati malah sedih. “Mengapa sedih?” Tanya si pipit
“Oh,
sahabatku mungkin semetara ini kita akan berpisah dulu, entah sampai berapa
lama. Itu yang membuatku sedih.” Jawab merpati. “Hari ini juga, aku akan pindah
tempat entah dimana,” sambil meneteskan air mata. “Itu lihat tuan yang pakai
topi koboy, dia yang akan menjemputku” aku akan jauh darimu kawan. Belum tau
tempat yang seperti apa diseberang sana.” Lalu burung pipit bekata demikian “Wahai sahabatku,
aku juga sedih, aku pasti merindukanmu”. Sambil berpegangan tangan melepas
perpisahan mereka.
Berjalannya waktu burung pipit yang
masih merasakan kesepiannya sering melamun, karena tak ada lagi sahabat seperti
merpati yang selalu menemaninya bermain bersama. Tak ada lagi yang menemaninya
terbang keliling di daerahnya. Sementara merpati juga merasakan hal yang sama.
Merpati harus menyesuaikan suasana baru di istana baru, merasakan suasana
baru, penuh hal-hal baru, semua serba
baru, mulai dari majikan, tempat tidur yang empuk, makanan yang enak-enak,
teman dll.
Akan tetapi pemilik merpati yang
baru, tak seperti dibayangkan sebelumya. Ternyata dia sering nyuruh-nyuruh nggak
jelas, marah-marah, melemparnya begitu saja, kadang tak boleh bermain, tidak
diberi makan sehingga merpati sering merasakan kesakitan dan kelelahan. Dalam
hati berbisik. “Aku ingin pulang, terbang saja aku harus diatur, semuanya serba
diatur. Bagaimana mau senang dan bebas.” Setiap hari hanya bisa pasrah dan
mengusap air mata. Ketika malam merpati sering tidak bisa tidur. Ia sering
melamun sendiri, memikirkan sahabatnya si pipit. “Sedang apa dia, bagaimana
keadaanya.” Teringat masa bercerita bersama, makan bersama, diperhatikan
pemiliknya, bermain bersama, keliling daerah yang ramah, melihat hijaunya
gunung, birunya laut, sawah yang asri, dan jernihnya sungai. “Tidak seperti disini
sudah panas, pengap ditambah lagi orangnya yang tidak ramah. Tidak seperti
rumah yang dulu walaupun sederhana dan terkadang makan seadanya serta
pas-pasan.” Merpati masih dongkol dalam hati. “Seandainya aku bisa kirim kabar
lewat pesan singkat, untukmu wahai sahabatku. Akan kutulis pesan untukmu bahwa
disini kutak nyaman, aku tidak suka, aku tidak betah, aku ingin pulang kerumah
kita dulu. Bercerita, makan, bermain bersama.”
Suatu ketika majikan pemilik hewan –
hewan mahal itu memberi kebebasan ke semua peliharaannya untuk bertamasya,
holiday, bersenang-senang termasuk merpati.
“Mungkin
ini saatnya aku pulang, aku sudah rindu dengang rumahku dulu, sahabatku, tak
sabar bertemu dengan pipit, ingin memelukmu, bermain, dan bercanda denganmu”.
Merpati bergurau dalam hati.
Akhirnya merpati berhasil kabur dari
istana orang kaya itu, tak peduli dengan kesalamatannya. Terpenting kembali
kerumah yang ramah. Dan bertemu kembali dengan sahabatnya yakni si pipit,
merekapun berpelukan. Merpatipun sadar bahwa ternyata lebih enak dirumah
sendiri, “rumahku masih bersahabat, masih mempunyai ruang kosong untuk bernafas
panjang, dari pada di istana diluar sana.”
Pekalongan,
29 Maret 2014
Sajak Gila
By:
Unknown
On: 5/29/2015 11:04:00 AM
Sajak Gila
16/3/15
aku lupa jalan untuk keluar
tubuh kaku kekar
berita malam ini yang ku dengar
mencabik-cabik sukma hingga nanar
tubuh kaku kekar
berita malam ini yang ku dengar
mencabik-cabik sukma hingga nanar
aku juga lupa jalan pulang
tak tahu, aku yang gila atau dunia ini yang gila
tak tahu, aku yang gila atau dunia ini yang gila
aku tak tahu berpolitik
aku tak tahu bergaul
aku tak tahu menjadi pahlawan
aku tak tahu mencari ilmu
apalagi bermanfaat untuk orang
aku tak tahu bergaul
aku tak tahu menjadi pahlawan
aku tak tahu mencari ilmu
apalagi bermanfaat untuk orang
aku ini sudah gila
mendengar dan melihat berita kemarin dan esok
aku lebih gila dan beneran gila
mendengar dan meraba berita MALAM INI
mendengar dan melihat berita kemarin dan esok
aku lebih gila dan beneran gila
mendengar dan meraba berita MALAM INI
sajak 30
By:
Unknown
On: 5/29/2015 10:53:00 AM
sajak 30
Selamat malam
kutulis ucapan singkat untukmu
angin memberi salam
esok pagi burung bernyanyi merdu
kutulis ucapan singkat untukmu
angin memberi salam
esok pagi burung bernyanyi merdu
cahaya binar mentari
menyapa
tentang sajak 30
dalam kesederhanaan
tentang sajak 30
dalam kesederhanaan
langkah malu-malu
menemu diujung perahu
menemu diujung perahu
bunga-bunga yang mekar menunggu
hadirmu tidak lagi sendu
30
hadirkan gerimis
tanah-tanah bermain hujan diladang
tarian ilalang
30
mengalahkan angka-angka hoki
Kamis, 28 Mei 2015
Gerbang Sampah
By:
Unknown
On: 5/28/2015 11:44:00 PM
GERBANG TEMPAT SAMPAH
Jiban_JW
Serdadu kembang beserakan digerbang
sekolah
Seorang ibu menitipkan anaknya kepada
guru kelas
“silahkan bapak gambarkan isi dunia,
Tidak Indonesia saja”
Ya, globalisasi ini kami masih beryanyi
Sorak-sorai ilalang diracuni seragam
berdasi
Mengapa?
Tidur, semalam oh bukan tadi pagi ia
menangis di jalan
Dengan baju lusuh
Membawa seberkas kertas yang hampir
basah
“sampaikan kepada teman sebangku dan
guru-guru kita
Ini kali pertama ku tanam pena, sehabis
melihat tanggalan dunia maya
Jatah kami yang membayar tunggakan gaji
buruh petani”
Katanya sudah gratis
“tidak! Itu hanyalah rayuan gila mereka
untuk kami,
Dengar saja berita, mereka
mengotori tembok-tembok istana,
telanjang dan tidur ditengah paripurna,
guru-guru memperkosa sarjana,
tiga hari mati disodomi tulisan basi,
sekolah-sekolah disulap lokalisasi,
babi ngepet menjelma juri puisi”
katanya murah
“tidak! Semalam ku dengar cerita ibu
Seekor kancil dilindungi petani,
semut-semut kecil dihakimi
Ubur-ubur berjemur di negeri dewata
Lumut-lumut berceceran di tembok bintang
lima
Pelajar tumbuh diracuni buah kuldi
Menanam padi di pinggiran ladang ganja
Boneka-boneka tak lagi mainan bocah TK”
Katanya Pahlawan tanpa tanda jasa
“Bukan! Kata siapa?
Tuhan
Buktinnya kartini tenggelam di Sidoarjo/jepara
Ki Hajar Dewantara mati tertusuk
Patimura
Jasad mereka tak lagi disirami
Tinggal nama, kembang menghiasi isi
negeri
Tulang belulangnya menjadi sarapan
anjing”
Siapa yang bilang?
Kemarin, oh bukan tadi ia memimpin
menyayikan Indonesia Raya dan membaca pancasila
Sekejap kawan mengheningkan cipta untuk
mereka di taman siswa
“buat apa sekolah jika membusuk bareng
sampah”
Lihat saja,
dibalik gerbang sampah-sampah berlutut
di depan tiang bendera”
Kursi dan Kue Coklat
By:
Unknown
On: 5/28/2015 11:36:00 PM
KURSI DAN KUE COKLAT
Jiban_JW
Manusia
tanpa undang – undang
Terlihat
slogan-slogan nyampah
membuatku gerah
Pendidikan
diabaikan
Sekolah
dihuni kaum kapitalism
“tak
usah engkau belajar, jika nantinya kan menjelma diriku seekor macan setiap
malam mengaum berebut daging-daging kumbang”
“buat
apa sekolah jika cuma jadi sampah”
ratusan
bahkan ribuan tahun dibiarkan
membusuk
engkau tak lagi menyanyikan Indonesia Raya
apalagi berkata Bhineka Tunggal Ika
Aku
lapar
Aku
ingin duduk di kursi itu,
sambil
makan kue coklat
Menjadi
lelaki berjas hitam bau comberan
Aku
lari ke pasar
Tapi
tak mampu bayar, terpaksa
aku menangis
apa
jawabmu
“kaulah daun-daun kering yang menyebrangi
keramaian
kaulah gerobak kencana yang hinggap di kerajaan
kaulah angin malam yang mengitari jembatan
kaulah embun pagi yang mengotori
dedaunan”
Kau
malah apatis, pasang
muka bengis
Tak
bergerak aku lapar
Ku
makan gumpalan beras yang beku menjadi butiran es
Hingar
– bingar kau
hiraukan
Aku
terkapar, terdampar
dalam perang
Akut,
aku takut, kau
kecam aku diancam
Aku
bergerak kau berontak,
aku
diam kau makan
Membiarkan aku
mati membusuk, lalu
kau kubur dalam- dalam
Ketika
tersorot cahaya, barulah
kau bertingkah
Ketika
bangkai tercium, bagaikan
kura-kura dalam perahu
Kau lemparkan batu melipatkan tangan di atas perut
buncitmu
Inikah
rumahku sesungguhnya, katanya
bisa untuk
231 juta jiwa
Tak
bisa untuk bernafas panjang
Rumahku
sesak penuh
penguasa tahta raja, dan pengguna kursi empuk
serta pemakan kue coklat
bertabur kembang
By:
Unknown
On: 5/28/2015 11:32:00 PM
BERTABUR KEMBANG
Puisi Deni Tri
Eko Mukti
Hari
besar segera tiba
Manajemen
diatur Rahwana di singgasana
Boneka-boneka
sibuk dengan perintahnya masing-masing
Engkau rayu bocah TK didepan Istana
engkau berseru
angkuh merayap menyusuri belantara
“aku catat apa
maumu, ku tampung segala permintaanmu
ku
sulap surga-neraka dalam sekejap mata”
Ah,
omong kosong disiang bolong
Dasar
badut perut gendut. Jerit bocah itu
Wewenang
dipermainkan oknum pemegang saham
Ia
tak mau kalah dengan saingan
Celoteh
manismu menghipnotis para artis
Mengumbar
janji-janji hambar terdengar samar-samar
Gembar-gemborkan revolusi,
kau banyak retorika!
Yang
bicara berkuasa, yang kuasa bisa tertawa, yang ketawa tak bisa diam,
yang
diam banyak bicara
Lihat
saja
Sampah-sampah
berserakan disudut kota, di desa-desa, di jalanan, gelantungan di pohon
Dasar
kuntilanak
Datang
tak diundang pulang minta tanda tangan
Apa
maksudmu kisana?
Tanpa kata tanpa tatap mata
tanpa muka engkau berdusta
“ingat
pesta demokrasi besok tiba”
Soekarno-Hatta
menunggu purnama, ronda membawa pedang
patimura
Gencarkan
serangan fajar berharap untuk menang
Halalkan
segala cara hanya untuk satu suara
“lihat
mukaku yang lucu, pilih, pilih, pilih jangan kau salah pilih”
Semua
dianggap hal biasa, salah-benar tak
dirasa
Kau
andalkan pahlawan senjata untuk perang
Hari
besar telah tiba
Melebihi
hari-hari besar keagamaan
Sang
raja mainan boneka
Diotakmu
hanyalah kedudukan, coba kau pikir
Di
desa-desa, di kota-kota, provinsi, hingga nusantara
Merah,
hijau, kuning, biru, ungu, hitam-putih menghiasi sepanjang jalan
Pestademokrasipara pecundang berjalan penuh bintang
Menang
penuh bunga, kalah bertabur kembang
Yang kotor tersimpan, putih terbuang
Barang Antik
By:
Unknown
On: 5/28/2015 11:29:00 PM
BARANG ANTIK
Puisi Deni Tri
Eko Mukti
Sudah
tak malu lagi trasparansi
Seolah-olah
menjadi budaya
Suap-menyuap
didepan publik
Yang
kenyang makin kenyang, yang lapar semakin lapar
Koruptor
bisa jalan – jalan
Yang
bertindak dianggap melawan
Kawan
dan lawan saling serang,
tidak ikut-ikutan malah jadi korban
Tuduh-menuduh
saling menghilangkan
Yang
besar dilindungi, yang kecil dihakimi
Benarkah
seperti itu?
keadilan
kalah dengan sang pengadil
Meja
hijau dianggap tempat hiasan
Palu
sidang dianggap mainan kanak-kanak
Timbangan
dianggap barang antik
Buku-buku
bergambar garuda, sengaja tak pernah dibuka, apalagi dibaca
Hanya
diletakan dalam rak gudang penuh sawang
Pidana
tidak pernah dicatat, perdata melebihi
redaksi
Suara
terbanyak yang berkuasa
Agama
dihiraukan, materi digandakan
Selalu
menunda sebelum tercium media
Suara
rakyat tak terdengar
Pejuang
diri dianggap cari sensasi, pencari sensasi
jadi sorotan,
benar disalahkan,
salah dijebloskan
Hakim
menyerah
Pedang
patimura tak lagi ditanganya
aku rindu
By:
Unknown
On: 5/28/2015 11:27:00 PM
AKU
RINDU
Puisi
Jiban_JW
Kurasakan
entah berapa lama lagi aku merindumu
Waktu
cepat berlalu
Zaman
semakin berubah, jahiliyah tinggal sejarah
Revolusi
globalisasi
Orang-orang
bersaing memamerkan harta – benda
Rasa
ini tak seindah dulu
ketika
ego menjadi senjata ideologi, tak ada toleransi
Mengekor
cultur barat
Modernis
menjadi mayoritas, tradisional dianggap pluralis
Kini
tersingkirkan oleh mereka
Kebinekaan
semakin luntur, gotong-royong, kini tak lagi dinamis
Tanda
yang khas kian habis dimakan globalisasi
Tak
ada lagi citra dimata dunia
Bocah-bocah
karbitan berlari tanpa bekal
Ketika
kemaluan tak seimbang dengan akal
Jiwa
patriot tak berkumandang lagi, sosok kartini jarang muncul kembali
Lihat
garuda sekarang!,
masihkah
ia tersenyum ataukah menangis sendu
Aku
takut semua itu terjadi,
Aku
rindu senyum ramahmu
Aku
rindu estafetmu
Aku
rindu namamu menjadi citra dimata dunia
Aku
rindu garuda tersenyum kembali
Langganan:
Postingan (Atom)

https://mail.google.com/mail/u/0/#sent/14cde38a55dcd75c?projector=1






