Selasa, 26 Mei 2015

aku beri kasih kau beri cinta

By: Unknown On: 5/26/2015 07:55:00 PM
  • Share The Gag
  • AKU BERI KASIH KAU BERI CINTA

    tidak banyak tahu
    bahwa hari ini ku beli tinta
    guna coretan untukmu
    yang selama ini dalam ruh dan raga
    lalu ku tulis begini:
    anggap saja ini sebuah puisi

    aku beri pena warna kau beri pelangi
    aku beri bunga kau beri sejuta estetika
    aku beri tembaga kau beri inta
    n permata
    aku beri payung kau beri goa
    aku beri gubuk kau beri rumah mewah
    aku beri penutup kemaluan kau beri celana dan baju sutra
    aku beri secuil keringat kau beri cucuran darah
    aku beri setetes air kau beri lautan
    aku beri batu kerikil kau beri gunung
    aku beri kacang hijau kau beri bola
    aku beri bola kau beri dunia

    aku beri sebutir beras kau beri sepiring nasi
    aku beri bambu runcing kau beri senjata api
    aku beri daun kau beri pohon
    aku beri pohon kau beri hutan
    aku beri hutan kau beri pulau
    aku beri pulau kau beri suatu negara
    aku beri negara kau beri bumi
    aku beri bumi kau beri langit
    aku beri langit kau beri semesta
    aku beri kasih kau beri cinta
    aku beri nestapa kau beri do'a

    apalagi kini yang akan ku beri,
    jika secuil tinta ini kau balas dengan kaligrafi.

    Pekalongan, 22 Des 2014

    Catatan

    By: Unknown On: 5/26/2015 12:30:00 PM
  • Share The Gag
  • DENNY TOUR:

    28 november 2004 gor jetayu pekalongan24 april 2005 gor kedungwuni29 april 2006 gor kedungwuni27 october 2007 gedung golkar kajen16 july 2008 skensa kedungwuni17 july 2008 skensa kedungwuni18 july 2008 skensa kedungwuni19 july 2008 skensa kedungwuni18 agustus 2008 gedung golkar kajen02 september 2008 gedung golkar kajen28 oktober 2008 gedung golkar kajen24 desember 2008 skensa kedungwuni24 januari 2009 simpang lima semarang14 february 2009 std. diponegoro semarang18 februari 2009 tangerang21 februari 2009 lap.gazebu bandung28 februari 2009 surabaya17 mei 2009 gedung restu ibu comal_pemalang18 agustus 2009 gedung golkar kajen29 september 2009 comal pemalang3 oktober 2009 stadionkridosono yogya
    26 oktober 2009 liquid cafe tamrhin square semarang08 november 2009 aula sma1 cepiring kendal15 november 2009 gd. bilyard lt.2 borobudur pekalongan16 desember 2009 hotel dinasty purwokerto24 desember 2009 skensa kedungwuni02 januari 2010 gd.graha wisata kolam renang karanganyar pekalongan03 april 2010 gd. marabunta kota lama semarang22 may 2010 lap.sma4 semarang15 september 2010 babalan lor widez pekalongan16 september 2010 wonokerto tyrto pekalongan17 september 2010 stadion sriwederi solo19 september 2010 hal.balai ds.kr.geneng ujung negara        batang7 november 2010 gedung kesenian kajen5 desember 2010 wapres pekalongan12 desember 2010 at.kridanggo pemalang19 desember 2010 g. soeteja purwokerto21 dan 26 desember 2010 korpri batang28,29,30 desember GBK jakarta07 may 2011 @ surabaya08 oct 2011@depok22 oct 2011@sma 67 jakarta31 des 2011 @senayan

    Tentang Deni 31M

    By: Unknown On: 5/26/2015 11:59:00 AM
  • Share The Gag
  • Deni Tri Eko Mùkti lahir di Pekalongan 6 Desember. Saat ini aktif kùliah di Universitas Pekalongan tahun 2013, program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Mempunyai hobi mendengarkan musik dan traveling. Anak bungsu dari empat bersaudara.
    Fb: Deny Sakit Djiwa 085641715881

    Kado Seorang Anak

    By: Unknown On: 5/26/2015 11:23:00 AM
  • Share The Gag
  • Kado Seorang Anak

    Deni Tri Eko Mukti

    :Buat Ibu
    Entah berapa banyak lagi aku mengucapkannya
    Waktu cepat berlalu
    Walaupun zaman dikuasai serigala, jahiliyah tinggal sejarah
    Revolusi globalisasi
    Getaran sukmanya membara dalam raga

    Ia yang selalu mengingatkan seruanMU
    Menebar biji-biji hingga berbuah madu
    Air matanya tak mengada
    Doa-doanya akan menghias muka bumi

    Terima kasih Ibu
    baladamu yang menjelma sukma
    Bisikan sutra membuat terlelap di pangkuanmu

    “Wahai anakku
    kini air susu Ibu telah basi
    engkau tumbuh hitam pekat, tak ada campur darah malaikat
    tak usah ragu raih segala cita dan asa”

    Terima kasih Ibu
    engkau selalu memikul beban berat kami
    lembut tanganmu yang bersandar di ubun-ubun
    memberi nyawa setiap satu hembus nafas

    “wahai putraku ma’afkan Ibu
    Cuma bisa mencangkul ladang kering
    kini hanya terbaring
    di balik selimut tidur malammu

    betapa mulyanya
    tak berharap apa-apa
    dari segala kerendahan hati

    : Allahummaghfirlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shaghiiroo

    Hitam dan Pelangi

    By: Unknown On: 5/26/2015 10:35:00 AM
  • Share The Gag
  • Hitam dan Pelangi
    Jiban_JW

    Pagi gerimis mengundang senyap. Angkutan antar kota mengantar, menuju kampus. Padahal sepeda motor yang biasa ku pakai bersender dipagar ruang tamu. Memang aku sempatkan naik angkutan umum, walaupun sekali dalam seminggu.
    “Aku berangkat dulu Bu!” Nadaku buru-buru sambil mencium tangan Ibu.
    “Hati-hati nak, jangan lupa baca do’a”.
    Matahari sejak tadi tak nampak batang hidungnya, terus saja ku langkahkan kaki. Bau tanah semerbak, percikan air berkelahi dengan lubang-lubang jalanan yang becek.
    * * *
    “Anjing!!!”. Gregetku dalam hati. “Manis banget senyumnya, dua gigi gingsul menjadi lukisan diraut muka, wajahnya berbinar. Bergegas aku langsung duduk dekat jendala paling belakang. Sontak pandanganku tak lepas dari bayangan wajah gadis itu, semuanya hening. Bagaikan kita berdua diantara padang berbunga pelangi.
    Dosen masih asyik menjelaskan mata kuliah, tapi pandanganku tetap ke satu arah, tak meleset walaupun 0,01 derajat. Dosen berbicara panjang lebar, bla-bla-bla-bla, suaranya jelas tapi tak satupun penjelasan tersebut masuk dalam otakku.
    “Tot, Tot, Gatot”. Tiga kali ku dengar, sepertinya ada yang memanggil namaku. “Astaga”. Tak sadar bahwa suara itu dari dosen. Pantas saja suara itu tak asing bagiku. Semua teman-teman sekelas menoleh kepadaku.
    “Sekarang giliranmu”
    “Giliran apa pak?”. Aku memang tak tahu, karena tidak mengikuti alur pembicaraan dosen.
    “Iya giliran kamu yang berbicara”
    “Tentang?”
    “Siapa orang-orang berpengaruh dalam hidupmu?”
    “Orang India pak”. Sontak satu kelas tertawa geli, bahkan salah satu temanku berseru. “Sejak kapan kau suka dengan India?”. Salah tingkah menghantui mukaku.
    Dosen mencoba menenangkan kelas yang mulai gemuruh. Selama ini mereka tahu bahwa aku suka musik bergenre tidak cengeng, musik yang tak lazim. Bagi mereka yang belum bisa menikmati dan merasakan akan menganggap musik enggak jelas didengarkan bahkan sulit dinikmati. Mereka juga tahu bahwa aku tidak menyukai lagu-lagu trend atau lagu populer, apalagi film-film India yang selama ini jadi bahan ngerumpi teman-teman cewe’ saat istirahat tiba. Bagiku tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan “menari dan bernyanyi” seperti tergambar didalam film-film India.
    “Tot, besok mau kemana?”. Seseorang dengan rambut belah tengah, tinggi menepuk punggungku dari belakang. Aku yang hendak keluar kelas sontak kaget. “Kamu Gatot kan”.
    “Iya,” aku mengangguk.
    “Saya Jana, dari Fakultas tetangga”. Kami berjalan menuju parkiran kampus bersamaan. “Nggak kemana-mana palingan bersih-bersih kamar. Emang ada apa?”.
    “Besok ikut aku, mau tidak?”
    “Kemana”
    “Udah tinggal ikut aja, besok jam 07.00 wib aku kerumah kamu”.
    ***
    Semalam aku udah dapat sms dari nomor baru. “Besok jam 7, bawa pakaian hangat, jangan lupa. Selamat istirahat”.
    Bel rumah berbunyi. Jam dinding menyeringai menunjukan pukul 06.45 wib ternyata  Jana sudah berdiri di depan. Lima belas menit berlalu, kami sudah tiba di stasiun. Kami bergegas menuju peron. Setelah sekian menit kereta datang. Lalu kami meninggalkan stasiun. Kereta begitu cepat meninggalkan kota kami. Didalam kereta aku terus bertanya kepada Jana. “Sebenarnya kita mau kemana sih, jauh nggak, tempatnya bagus nggak?”. Aku terus nerocos. Rasa penasaranku, cuma terbalas senyum dan Jana terus saja membaca buku. Entah buka apa yang ia baca. Sepertinya buku lama, warnanya sudah kuning kecoklatan.
    ***
    Wooww, aku terkagum-kagum melihat tempat yang kami kunjungi. Gedung-gedungnya pencakar langit tidak kalah dengan kota Metropolitan, bahkan lebih bagus dan bersih. Udara yang ku hirup, hamparan padang savana menghiasi gang-gang jalanan, beberapa gunung seakan membungkus kota. Aku tak berhenti geleng-geleng kepala, jingkrak-jingkrak seperti anak kecil baru dapat ice cream.
    “Ayok, kita kesana saja” Jana mengajakku sambil menunjuk ke satu arah.
    Kita bergegas berjalan menuju rumah asli adat sana.
    “Selamat datang di kampung Sokolimo”.
    “Mungkin sudah jarang sekali kampung seperti ini, ku jumpai di zaman sekarang.” Kedatangan kami disambut dengan ramah oleh warga adat setempat. Bagaikan tamu agung, nama Jana disebut-sebut bak selebritis bahkan melebihi kedatangan presiden. Hingga kami menetap disalah satu rumah penduduk adat.
    ***
    Nyanyian burung saling berbalas puisi menyambut kami yang baru membuka mata. Beberapa menit kemudian kami bergegas melihat aktifitas penduduk adat sana. Setiap kami berpapasan dengan orang, mereka menunduk memberi salam sebagai rasa hormat.
    “Walaupun penduduk sini berbeda suku, latar belakang, gender, bahkan kepercayaan, tapi lihatlah aktifitas mereka sehari-hari, mereka berjalan dengan tenang dan tentram tidak saling pukul ataupun berkelahi layaknya bocah sd berebut permen.” Jana mendeskripsikan keadaan kampung Sokolimo dengan santai. Seakan-akan dia sudah tahu betul tentang penduduk sana, seperti pernah menjadi warga Sokolimo. Sambil berbincang kami terus mengelilingi kampung, layaknya tour gate Jana menceritakan dengan detail keadaan kampung Sokolimo. Dari hal kecil hingga hal besar, Jana tahu persis.
    Aku semakin penasaran sebenrnya siapa dia, darimana dia tahu semuanya tentang kampung Sokolimo. “Jangan-jangan dia adalah... Ahh, aku semakin bingung saja”. Sambil ngedumel ngomong sendiri dalam hati kami terus berjalan.
    Beberapa jam kemudian kami besandar diantara pohon yang menjulang kearah danau besar. Begitu bersih dan terawat, walaupun aku lihat ada beberapa warga yang menangkap ikan, tetapi keadaan danau itu masih terjaga keasriannya.
    ***
    Kami memutuskan pulang. Sepertinya singkat sekali kunjungan kami. Waktu disana begitu cepat tapi membekas, bagai sebuah mimpi. Setibanya dikota, kami memutuskan pulang ke rumah masing-masing.
    Esok harinya aku beraktifitas seperti biasa, dari membereskan pekerjaan rumah hingga kuliah. Kejadian kemarin tidak gampang dilupakan. Rasanya ingin lagi berkunjung kesana. Hari ini aku berangkat kuliah dengan gairah baru. Otak dan tubuhku serasa fresh, bagaikan tidak ada beban.
    Setelah istirahat, aku bergegas mencari Jana. Aku datangi fakultasnya, tapi nggak ada. “Oh, mungkin dia lelah, gara-gara kemarin”. Aku menjawab sendiri. Esok hari, aku  juga mencarinya, dia juga nggak ada. Hampir setiap hari, aku berusaha mencari dia, karena setelah pulang kunjungan beberapa hari kemarin aku belum sempat mengucapkan terima kasih dan meminta alamat rumahnya serta nomor telephon yangku dapat, tidak bisa dihubungi. Aku datangi ke TU fakultas dia, tapi hasilnya nihil.
    “Nama yang anda cari tidak ada mas”. Kepala bidang TU menjawab pertanyaanku.
    Aku ngotot,
    “Masak Bu, coba dicek sekali lagi, siapa tahu hurufnya kurang satu”.
    “Kalau tidak percaya, anda cari sendiri”.
    Aku langsung meraih mouse komputer, lalu mulai mengetik nama di kolom pencarian daftar nama mahasiswa, memang hasilnya nihil.
    “Terima kasih, Bu..!”. aku kembali ke kelas, masih saja kepikiran. Sebenarnya siapa dia, aku terus bertanya dan menjawab sendiri membuat penasaran. Aku juga mencoba datangi kampung Sokolimo, anehnya kampung itu juga tidak ada. Padahal transportasi yang ku tuju sama, alamat yang ku datangi juga persis beberapa bulan lau ketika aku dan Jana kunjungi.
    “Dia itu berbeda, tidak seperti teman-teman yang selama ini aku kenal”. Mengapa aku terus mencari dia. Walaupun aku baru kenal satu hari dua malam, aku bisa menyimpulkan. “Dari penampilan yang sederhana, pengetahuannya luas, ketika kami berkunjung ke kampung Sokolimo, sepertinya dia disegani oleh penduduk sana. Tidak banyak bicara, tidak ikut-ikutan tren. Ketika kami ngobrol santai digerbong kereta. Aku memuji-muji Sumarni, cewe yang menjadi idola dikelasku, bahkan hampir satu kampus mengenal dia, tapi Jana hanya bersikap biasa ajah, bahkan tidak peduli dengan kecantikannya. Ketika aku berbicara tentang media sosial, tempat-tempat ramai yang heboh dikunjungi orang, kesenangan-kesenangan dunia, dia cuma tersenyum. “Semua itu tidak ‘kan bertahan lama”.
    Ketika kami dikampung Sokolimo, dia menceritakan banyak hal, orang-orang disana begitu segan, ketika ada masalah cepat terselesaikan, tidak berlarut-larut bahkan dibesar-besarkan dan malah jadi hilang. Penduduk kampung Sokolimo begitu patuh dengan pemimpin adat. Walaupun sama-sama mencari pangan mereka tidak saling rebut dan saling ikut.
    “Kini aku tak tahu lagi harus mencari kemana”.
    “Ada warna Hitam diantara warna Pelangi, memberi arti perjalanan angin lalu”.


    Secangkir Teh Melati

    By: Unknown On: 5/26/2015 10:25:00 AM
  • Share The Gag
  • Secangkir Teh Melati
    Jiban_JW


    “Entah mengapa aku tak bisa berkata-kata dihadapanmu. Selangkah saja kau berpaling dariku hati ini berdebar bagai genderang perang. Aku tak mampu berpuisi apalagi beryanyi sendu, hatiku terpaku oleh matamu mekar bagai senja tadi yang jalang”.
    Malam itu bintang membungkus langit, bulan menampakan wajah ramahnya. Rudy masih melamun di depan cermin. Membayangkan gadis yang akhir-akhir ini membuat ia tak bisa tidur. Secangkir teh bersanding menemani malam itu.
    “Ya Tuhan inikah namanya kekuatan cinta, apakah benar akan memberi mahkota. Sedang aku belum memperjuangkan. Mengapa pula aku hampir jatuh karena cinta. Aku dibutakan oleh cinta, memang benar kata pepatah cinta itu buta kalau tidak buta bukan cinta. Hampir saja cinta melebihi takaran dibanding cintaku padaMu, hampir saja cinta meluap melebihi cintaku kepada orangtua dan orang yang benar-benar cinta kepadaku. Ya aku mencintai gadis itu, gadis yang benar-benar tak merespon ketika aku dihadapnya sejak empat semester lalu. Entah kenapa dihadapan dia aku seperti pohon pisang, tapi setelah ia berpaling dan menjauh aku malah merasa kehilangan dan sepi bahkan puisi-puisi menemani dalam sepi”.
    Rudy masih menghadap cermin. Sesekali menyeruput teh. Rembulan semakin meredup tapi senyumnya tak padam, terlihat dibalik jendela kamar lantai dua ia terus bertanya-tanya. Sesekali ia berbaring diatas kasur dan memeluk guling menghadap langit,-langit. “Andaikan bintang-bintang mampu menyampaikan isi hatiku”. Dari atas kasur ia melirik keluar memandang bintang, malam itu bersinar bagaikan wajah dia.
    ***
    Pagi menyelimuti kota. Sapaan burung mungil, pohon-pohon menari sepanjang perjalanan. Lalu lalang jalanan, anak-anak sekolah, orang kantoran, penjual koran, penjual bubur ayam mereka menaruh harapan dibidangnya masing-masing. Begitu juga dengan Rudy mengayuh sepeda menuju kampus.
    Kontrak kuliah sudah selesai, setelah teman-temannya keluar semua, ia hanya berdiri ditengah-tengah pintu. “Ayo Rud pulang”. Salah satu temannya menyapa. Tapi ia cuma tersenyum dan tak mengalihkan pandanganya. Dari sudut ke sudut kampus mata ia terus berjalan, tidak lain kalau sekedar mencari keberadaan Melati. Pandangan Rudy mencair setelah gadis idolanya berjalan bersama dua temannya dihalaman lapangan basket.
    “Anjing”. Greget Rudy
    “Manis banget raut wajahnya berbinar, ikal rambutnya yang melambai tertiup angin. Harus dengan cara apa agar aku bisa dekat dengan dia. Surat yang ku tulis selama ini dibaca atau tidak”. Ia terus dialok dalam hati
    Rudy mencintai Melati bukan karena sensasi, berbodi seksi, merasa keki kepada orang lain apalagi mempunyai dengki, melainkan prestasi. Melati memang cukup terkenal dikampusnya. Tidak hanya cantik segudang penghargaan pernah didapat. Teman-teman Melati sering mengatakan, ia welcome kepada siapa saja baik yang suka sama dia maupun tidak.
    ***
    “Yeah” seru Rudy ketika melihat daftar pengumuman bahwa ia lulus menjadi panitia OSPEK tahun ajaran ini. Ia senang karena disitu ada nama Melati, bahkan Melati menjadi ketua pelaksana OSPEK. “Ini adalah kesempatanku agar akau dapat kenal lebih dekat dengan dia. Tidak lewat mimpi, khayalan tingkat dewa”.
    Sejak itu Rudy mengenal dekat dengan Melati. Mulai bertukar pikiran. “Oh, jadi kamu yang ngirim surat-surat misterius itu”. Melati membuka pembicaraan.
    “Iya, tapi surat-suratku sempat kamu baca ‘kan?”
    “Sempat sih, tapi tidak semua”
    “Lantas mengapa tidak pernah dibalas”
    “Bagaimana mau membalas, pengirimnya saja sok-sok’an pakai inisial, tidak ada alamatnya lagi”
     “Hehehe”. Rudi hanya menyeringai lebar
    Ia lebih memilih menyurat untuk menyampaikan pesan ketimbang media yang lain. Tidak peduli dianggap kuno. Kecintaan Rudy menulis surat tak lekang oleh waktu ketimbang sms. Karena Ia tidak suka hal-hal berbau instan. “Sesuatu yang gampang akan mudah hilang dan sesuatu yang sukar didapat atau berproses tidak mudah dilupakan. Begitu juga dengan cewek, semakin kita banyak berproses untuk mendapatkan semakin banyak pembelajaran”.
    Perjuangan Rudy untuk Melati tidak semulus yang ada dalam mimpinya. Banyak orang-orang yang menyukai Melati bahkan mencintai. Lihat saja setiap hari berapa cowok yang sms dia, telephon dia. Apalagi ketika hari libur berapa cowok yang ingin apel kerumahnya, jalan bersamanya. Dari anak penjual bubur hingga anak haji mabrur, dari anak pejabat hingga anak konglongmerat. “Apa mungkin seorang mlarat mampu mendapatkan cintamu wahai Melatiku. Semoga kamu tidak jatuh cinta. Aku percaya kekuatan cinta akan tiba kepada orang yang ada kemauan memperjuangkan bukan sekedar mempermainkan”. Rudy terus saja percaya bahwa cinta itu akan datang pada saat yang tepat. Ia tidak peduli kepada orang-orang yang dekat dengan Melati. Tidak peduli mereka pakai cara apa. Mau sms tiap detik, telephon setiap menit, menyapa setiap jam, jalan tiap hari dan mencari perhatian setiap minggu.
    ***
    Hari ini adalah hari ulang tahun Melati. Rudy masih bingung mau mengucapkan dengan cara apa, sedangkan orang-orang yang dekat dengan Melati sudah duluan mengucapkan dan memberi hadiah. Sebuah boneka, gantungan kunci, sepatu, bantal Hello Kitty dsb. Dihadapan cermin ia termangu nafasnya tersengal. Seduan teh menemani sore itu. Senja terlihat murung dibalik jendela kamarnya. Lamunan Rudy membuat hati kelihatan gelisah. Ia memegang pensil jari jemarinya memainkan pensil, membolak balikan.
    “Wooyy”. Sambil menepuk pundak Rudy Tiba-tiba suara mengagetkan lamunan.
    “Haloo Kak, lagi ngapain sepertinya sedang memikirkan sesuatu”
    “Ehh kamu ya masuk ke kamar Kakak nggak pakai salam dan ketuk pintu main nyelonong aje. Pulang kapan kamu”
    “Iya-iya aku minta ma’af, ‘kan ceritanya kangen. Tiga minggu nggak bertemu kakak. Aku baru saja kak nyampai, dijemput Ayah dan Ibu. Kakak sedang apa?”
    “Anak kecil mau tau aja. Keppo!!!”
    “Afri sudah gedhe kali Kak, ‘kan sudah bisa mandiri. Pasti masalah cewe ya”. Afri terus saja ingin tahu urusan kakaknya. “Ciee Kakak jatuh cinta. Sini bicara dengan adik yang kece badai, adik tahu kok masalah cewek, hehehe”
    Rudy yang masih bingung membuka pembicaraan dengan adiknya. Dari situ muncul motivasi dan jalan keluar.
    “Kakak ‘kan pintar menggambar dan menulis mengapa tidak dimanfaatkan saja”. Lihatlah senja itu Kak, lihat senyumya, lihat warnanya memerah jingga, mega-mega menari-nari mengelilinginya”
    Rudy mengiyakan saran adiknya. Ia langsung ambil kertas. Ia mulai menorehkan goresan diatas kertas, sambil memandang senja jingga. “Inilah rasaku bagaikan senja ini yang menyeringai lebar”. Sambil menggambar ia berpuisi. Jadiah sebuah gambar dan satu puisi. Setelah selesai ia bergegas keluar ke toko untuk membungkus kado lalu pergi kerumah Melati.
    “Mungkin hadiah ini tak seberapa nilainya dibanding yang lain. Dalam keadaan yang sederhana aku mengucapkan selamat ulang tahun dan ini yang aku bisa. Semoga kamu tetap sederhana dan tidak berlebih-lebihan”. Setelah ngobrol beberapa lama Rudy lekas pulang.
    ***
    “Terima kasih ya Rud. Hadiahnya bagus banget”
    “Iya, sama-sama. Jangan lebay gitu ah”.
    “Mbak Teh satu dan es cappucino satu”. Teriak Rudy kepapa penjual di area kantin.
    “Sejak kapan kamu bisa menggambar. Kalau tahu dari dulu kamu bisa menggambar. Kamu bisa ikut gabung dengan tempat kerja Ayah saya. Ayah dan rekan-rekannya sendang menyelesaikan produksi komik Nusantara. Sepertinya karyamu cocok”
    “Hehehe”. Rudy malah ketawa geli. “Ah, masak jangan bercanda gitu ah. Sepertinya gambarku ini biasa saja”. Dikantin kampus mereka asyik nongkrong.
    Kedekatan mereka sepertinya mengalami perubahan yang drastis. Hari demi hari ada lampu hijau. Keduanya sudah saling memperkenalkan orang tua mereka masing-masing. Tapi sayang Rudy belum berani nembak Melati. Rudy masih ada keraguan. “Apakah seorang Melati akan menerima aku dengan keadaan seperti ini. Apakah dia akan bahagia denganku nanti sedang aku hanya mampu memberikan senyuman bukan materi masa depan”.
    Pada suatu ketika mereka jalan ke Mangrove Park, mereka berkeliling menyusuri bakau diatas prahu . seharian mereka menghabiskan hari  libur bersama ketempat wisata yang dekat dengan rumah Rudy. Setelah dari Mangrove park mereka beranjak ke kebun teh yang luasnya hampir 7 hektar. “Lihatlah Mel pucuk-pucuk teh menari bersama angin lepas”. Rudy menunjuk kearah kebun teh. “Kamu tahu tidak mengapa saya suka teh. Aromanya wangi, apalagi ketika menghirup teh yang baru disedu serasa pikiran ini melayang fresh. kepala jadi enteng seakan-akan tanpa beban, dibanding aroma minuman lain”. Ditengah-tengah kebun teh tiba-tiba Rudy berhenti dan memegang kedua tangan Melati. Rudy memberanikan diri mengungkapkan cintanya.
    ***
    “Itulah hari bahagia, tak terlupakan dalam perjalan hidupku. Ketika harum aroma secangkir teh bersama mewangi Melati”.

    Sabtu, 23 Mei 2015

    Mekar dan Merekah

    By: Unknown On: 5/23/2015 09:44:00 AM
  • Share The Gag
  • 23 Mei 2015

    Mekar dan Merekah

    Senja tadi memberi senyum pada taman
    sedang duduk menghisap serbukan
    salam burung terbang
    berputar memutar jalang
    bunga yang mekar
    memberi sapa 
    buah merekah bagai halilintar
    depan siapa
    hadir
    tanggalkan
    tempat gelap dan pekat
    menimbun biru mulai sendu