Jumat, 29 Mei 2015

sajak 30

By: Unknown On: 5/29/2015 10:53:00 AM
  • Share The Gag
  • sajak 30

    Selamat malam
    kutulis ucapan singkat untukmu
    angin memberi salam
    esok pagi burung bernyanyi merdu

    cahaya binar mentari
    menyapa
    tentang sajak 30
    dalam kesederhanaan

    langkah malu-malu
    menemu diujung perahu
    bunga-bunga yang mekar menunggu
    hadirmu tidak lagi sendu

    30
    hadirkan gerimis
    tanah-tanah bermain hujan diladang
    tarian ilalang

    30
    mengalahkan angka-angka hoki

    Kamis, 28 Mei 2015

    Gerbang Sampah

    By: Unknown On: 5/28/2015 11:44:00 PM
  • Share The Gag
  • GERBANG TEMPAT SAMPAH
    Jiban_JW


    Serdadu kembang beserakan digerbang sekolah
    Seorang ibu menitipkan anaknya kepada guru kelas
    “silahkan bapak  gambarkan isi dunia,
    Tidak Indonesia saja”

    Ya, globalisasi ini kami masih beryanyi
    Sorak-sorai ilalang diracuni seragam berdasi

    Mengapa?

    Tidur, semalam oh bukan tadi pagi ia menangis di jalan
    Dengan baju lusuh
    Membawa seberkas kertas yang hampir basah
    “sampaikan kepada teman sebangku dan guru-guru kita
    Ini kali pertama ku tanam pena, sehabis melihat tanggalan dunia maya
    Jatah kami yang membayar tunggakan gaji buruh petani”

    Katanya sudah gratis
    “tidak! Itu hanyalah rayuan gila mereka untuk kami,
    Dengar saja berita, mereka
    mengotori tembok-tembok istana,
    telanjang dan tidur ditengah paripurna,
    guru-guru memperkosa sarjana,
    tiga hari mati disodomi tulisan basi,
    sekolah-sekolah disulap lokalisasi,
    babi ngepet menjelma juri puisi”

    katanya murah
    “tidak! Semalam ku dengar cerita ibu
    Seekor kancil dilindungi petani, semut-semut kecil dihakimi
    Ubur-ubur berjemur di negeri dewata
    Lumut-lumut berceceran di tembok bintang lima
    Pelajar tumbuh diracuni buah kuldi
    Menanam padi di pinggiran ladang ganja
    Boneka-boneka tak lagi mainan bocah TK”

    Katanya Pahlawan tanpa tanda jasa
    “Bukan! Kata siapa?
    Tuhan
    Buktinnya kartini tenggelam di Sidoarjo/jepara
    Ki Hajar Dewantara mati tertusuk Patimura
    Jasad mereka tak lagi disirami
    Tinggal nama, kembang menghiasi isi negeri
    Tulang belulangnya menjadi sarapan anjing”

    Siapa yang bilang?
    Kemarin, oh bukan tadi ia memimpin menyayikan Indonesia Raya dan membaca pancasila
    Sekejap kawan mengheningkan cipta untuk mereka di taman siswa
    “buat apa sekolah jika membusuk bareng sampah”
    Lihat saja,

    dibalik gerbang sampah-sampah berlutut di depan tiang bendera”

    Kursi dan Kue Coklat

    By: Unknown On: 5/28/2015 11:36:00 PM
  • Share The Gag
  • KURSI DAN KUE COKLAT
    Jiban_JW
    Radikal tak masuk akal
    Manusia tanpa undang – undang
    Terlihat slogan-slogan nyampah membuatku gerah
    Pendidikan diabaikan
    Sekolah dihuni kaum  kapitalism
    “tak usah engkau belajar, jika nantinya kan menjelma diriku seekor macan setiap malam mengaum berebut daging-daging kumbang”
    “buat apa sekolah jika cuma jadi sampah”
    ratusan bahkan ribuan tahun dibiarkan membusuk
    engkau tak lagi menyanyikan Indonesia Raya
    apalagi berkata Bhineka Tunggal Ika

    Aku lapar
    Aku ingin duduk di kursi itu, sambil makan kue coklat
    Menjadi lelaki berjas hitam bau comberan
    Aku lari ke pasar
    Tapi tak mampu bayar, terpaksa aku menangis
    apa jawabmu
    “kaulah daun-daun kering yang menyebrangi keramaian
    kaulah gerobak kencana yang hinggap di kerajaan
    kaulah angin malam yang mengitari jembatan
    kaulah embun pagi yang mengotori dedaunan”
    Kau malah apatis, pasang muka bengis
    Tak bergerak aku lapar
    Ku makan gumpalan beras yang beku menjadi butiran es
    Hingar – bingar kau hiraukan

    Aku terkapar, terdampar dalam perang
    Akut, aku takut, kau kecam aku diancam
    Aku bergerak kau berontak, aku diam kau makan
    Membiarkan aku mati membusuk, lalu kau kubur dalam- dalam
    Ketika tersorot cahaya, barulah kau bertingkah
    Ketika bangkai tercium, bagaikan kura-kura dalam perahu

    Kau lemparkan batu melipatkan tangan di atas perut buncitmu
    Inikah rumahku sesungguhnya, katanya bisa untuk 231 juta jiwa
    Tak bisa untuk bernafas panjang
    Rumahku sesak penuh penguasa tahta raja, dan pengguna kursi empuk
    serta pemakan kue coklat

    bertabur kembang

    By: Unknown On: 5/28/2015 11:32:00 PM
  • Share The Gag
  • BERTABUR KEMBANG

    Puisi Deni Tri Eko Mukti
    Hari besar segera tiba
    Manajemen diatur Rahwana di singgasana
    Boneka-boneka sibuk dengan perintahnya masing-masing
    Engkau rayu bocah TK didepan Istana
    engkau berseru angkuh merayap menyusuri belantara
    aku catat apa maumu, ku tampung segala permintaanmu
    ku sulap surga-neraka dalam sekejap mata
    Ah, omong kosong disiang bolong
    Dasar badut perut gendut. Jerit bocah itu
    Wewenang dipermainkan oknum pemegang saham
    Ia tak mau kalah dengan saingan

    Celoteh manismu menghipnotis para artis
    Mengumbar janji-janji hambar terdengar samar-samar
    Gembar-gemborkan  revolusi,  kau banyak retorika!
    Yang bicara berkuasa, yang kuasa bisa tertawa, yang ketawa tak bisa diam,
    yang diam banyak bicara
    Lihat saja
    Sampah-sampah berserakan disudut kota, di desa-desa, di jalanan, gelantungan di pohon
    Dasar kuntilanak
    Datang tak diundang pulang minta tanda tangan
    Apa maksudmu kisana?
    Tanpa kata tanpa tatap mata tanpa muka engkau berdusta
    “ingat pesta demokrasi besok tiba”

    Soekarno-Hatta menunggu purnama, ronda membawa pedang patimura
    Gencarkan serangan fajar berharap untuk menang
    Halalkan segala cara hanya untuk satu suara
    “lihat mukaku yang lucu, pilih, pilih, pilih jangan kau salah pilih”
    Semua dianggap hal biasa, salah-benar tak dirasa
    Kau andalkan pahlawan senjata untuk perang

    Hari besar telah tiba
    Melebihi hari-hari besar keagamaan
    Sang raja mainan boneka
    Diotakmu hanyalah kedudukan, coba kau pikir

    Di desa-desa, di kota-kota, provinsi, hingga nusantara
    Merah, hijau, kuning, biru, ungu, hitam-putih menghiasi sepanjang jalan
    Pestademokrasipara pecundang  berjalan penuh bintang
    Menang penuh bunga, kalah bertabur kembang

    Yang kotor tersimpan, putih terbuang

    Barang Antik

    By: Unknown On: 5/28/2015 11:29:00 PM
  • Share The Gag
  • BARANG ANTIK
    Puisi Deni Tri Eko Mukti
    Sudah tak malu lagi trasparansi
    Seolah-olah menjadi budaya
    Suap-menyuap didepan publik
    Yang kenyang makin kenyang, yang lapar semakin lapar

    Koruptor bisa jalan – jalan
    Yang bertindak dianggap melawan
    Kawan dan lawan saling serang, tidak ikut-ikutan malah jadi korban
    Tuduh-menuduh saling menghilangkan
    Yang besar dilindungi, yang kecil dihakimi

    Benarkah  seperti itu?

    keadilan kalah dengan sang pengadil
    Meja hijau dianggap tempat hiasan
    Palu  sidang dianggap mainan kanak-kanak
    Timbangan dianggap barang antik

    Buku-buku bergambar garuda, sengaja  tak pernah dibuka, apalagi dibaca
    Hanya diletakan dalam rak gudang penuh sawang
    Pidana  tidak pernah dicatat, perdata melebihi redaksi
    Suara terbanyak yang berkuasa

    Agama dihiraukan, materi digandakan
    Selalu menunda sebelum tercium media
    Suara rakyat tak terdengar
    Pejuang diri dianggap cari sensasi, pencari sensasi jadi sorotan,
    benar disalahkan, salah dijebloskan
    Hakim menyerah

    Pedang patimura tak lagi ditanganya

    aku rindu

    By: Unknown On: 5/28/2015 11:27:00 PM
  • Share The Gag
  • AKU RINDU
    Puisi Jiban_JW
    Kurasakan entah berapa lama lagi aku merindumu
    Waktu cepat berlalu
    Zaman semakin berubah, jahiliyah tinggal sejarah
    Revolusi globalisasi
    Orang-orang bersaing memamerkan harta – benda

    Rasa ini tak seindah dulu
    ketika ego menjadi senjata ideologi, tak ada toleransi
    Mengekor cultur barat
    Modernis menjadi mayoritas, tradisional dianggap pluralis
    Kini tersingkirkan oleh mereka
    Kebinekaan semakin luntur, gotong-royong, kini tak lagi dinamis

    Tanda yang khas kian habis dimakan globalisasi
    Tak ada lagi citra dimata dunia

    Bocah-bocah karbitan berlari tanpa bekal
    Ketika kemaluan tak seimbang dengan akal
    Jiwa patriot tak berkumandang lagi, sosok kartini jarang muncul kembali
    Lihat garuda sekarang!,
    masihkah ia tersenyum ataukah menangis sendu
    Aku takut semua itu terjadi,
    Aku rindu senyum ramahmu
    Aku rindu estafetmu
    Aku rindu namamu menjadi citra dimata dunia

    Aku rindu garuda tersenyum kembali

    5W 1H

    By: Unknown On: 5/28/2015 11:23:00 PM
  • Share The Gag
  • Soal  5W+1H

    Bacalah dengan benar dan jawablah dengan seksama!

    Jelaskan sebuah keambiguan kata!
    Apakah kau tahu, mana itu-ini “kata”
    Yang mengajarkan kita lupa?

    Apa?
    Itu cuman pura-pura lupa
    Saat bermain puisi tentang estetika
    Atau kau malah terkena virus sakit jiwa
    Ketika etika ikut-ikutan gila

    Dimana kini?
    Kau tulis puisi banci
    Tempat sembunyi
    Ditengah-tengah anomali
    Ketika kata demi kata mencari
    Datangnya nestapa dan sunyi

    Kapan?
    Rangkaian kata sembunyi menjadi lawan
    Saat cengeng dan tangis kawan
    Berjalan
    Sepanjang lautan

    Siapa?
    Yang dianggap lawan itu binatang atau manusia
    Sementara makhluk ini negara
    Merubah segalanya
    Ketika kata itu tiba

    Mengapa?
    Ia datang tiba-tiba
    Saat guncangan Indonesia
    Merajalela kesela-sela
    Titik lainnya

    Bagaimana?
    Guncangan kau jaga
    Jika seia-sekata, kabur dihadapnya
    Lari pandangannya
    Hilang entah kemana
    Benarkah semua kata adalah cinta
    Yang belum jelas rupanya
    Buat semakin tidak waras saja
    O, sesempit itukah tafsir cinta

    Ternyata redaksi hanyalah hiburan semata
    Ah, sudahlah tidur saja
    Biar para rampok buku yang baca
    Agar mereka punya CINTA

    Pekalongan, 24 Des 2014